MBKM
Cerita Singkat Pejuang Muda dari Kota Metropolitan
Halo! Perkenalkan nama saya Elisabeth Angelia Sucityaswati mahasiswa Jurusan Pendidikan Masyarakat Universitas Siliwangi yang pada Oktober sampai Desember 2021 memiliki kesempatan untuk mengikuti program Pejuang Muda dan ingin berbagi cerita selama mengikuti program tersebut.
Tentang Program Pejuang Muda
Program Pejuang Muda merupakan laboratorium sosial mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalamannya dalam rangka memberikan manfaat bagi masyarakat secara nyata. Program ini berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang dipimpin oleh Ibu Risma Trimaharini dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (yang kemudian termasuk ke dalam program Kampus Merdeka) serta Kementerian Agama Republik Indonesia. Secara garis besar, program Pejuang Muda hadir untuk memberikan kesempatan kepada Mahasiswa agar dapat belajar dari masyarakat dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah, tokoh agama setempat, pemuka masyarakat, serta pemangku kepentingan di bidang sosial lainnya (pejuangmuda.kemensos.go.id). Mahasiswa yang mengikuti program ini memiliki ruang lingkup kerja yang akan menjadi tugasnya selama periode pelaksanaan program, diantaranya adalah:
– Turun langsung membantu masyarakat di daerah yang membutuhkan bantuan (khususnya di daerah pasca bencana)
– Berkolaorasi (magang) di Kementerian Sosial dalam mendukung program-programnya
– Bersama Kementerian Sosial, merancang dan merealisasikan program sosial yang relevan dan tepat di sebuah daerah tempat tugas (Team Based Project)
– Merancang sebuah publikasi digital untuk mendukungg program sosial yang sudah direncanakan dan sedang dilaksanakan
– Melakukan verifikasi dan validasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial penerima bantuan PKH dan BPNT
– Mengerjakan tugas-tugas berbentuk makalah dan artikel terkait materi yang diberikan pada kegiatan pembekalan (Kuliah Umum).
Pada pelaksanaan program Pejuang Muda terdapat beberapa tahap dimulai dari pendaftaran, seleksi, pembekalan (kuliah umum), pelaksanaan tugas magang, pelaksanaan program Team Based Project, pelaporan hasil akhir kegiatan. Untuk menunjang pelaksanaan program ini, mahasiswa akan diberikan keuntungan seperti:
1. Transportasi pulang-pergi ke tempat tugas dan kembali dari tempat tugas
2. Uang saku
3. Atribut (jaket, rompi, topi, dan tas ransel)
4. Asuransi keselamatan kerja
5. Program setara 20 sks
6. Anggaran hibah dalam negeri/Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial sebagai penghargaan atas inovasi, kreativitas, nilai kewirausahaan dan keluaran serta manfaat dari program yang dihasilkan
Tahap Persiapan
Saya menemukan informasi pendaftaran program Pejuang Muda pada saat sedang membaca beberapa berita dan artikel di laman milik Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (imadiklus.or.id). Setelah membaca informasi tersebut, saya bergegas mencari tahu lebih lanjut mengenai program Pejuang Muda dan mengetahui beberapa persyaratan pendaftaran sebagai peserta, diantaranya adalah:
1. Terbuka untuk Mahasiswa program studi S1/D4 semua jurusan
2. Mahasiswa perguruan tinggi aktif yang minimal berada di semester 5
3. IPK Minimal 2,75
4. Memiliki pengalaman organisasi di lingkungan kampus maupun luar kampus
5. Memiliki kemampuan kerjasama dan komunikasi yang baik
6. Memiliki komitmen mengikuti dan menyelesaikan program Pejuang Muda
7. Bersedia mengikuti kegiatan secara online maupun offline
8. Tidak terikat program sejenis di institusi/lembaga lain
9. Siap dan bersedia ditempatkan di seluruh lokasi Indonesia.
Saya merasa keadaan saya saat itu sudah sesuai dengan persyaratan yang diberikan, kemudian tanpa ada keraguan saya mendaftar dengan cara sebagai berikut:
1. Mendaftar melalui www.pejuangmuda.kemensos.go.id
2. Meng-upload beberapa dokumen berikut:
– Curriculum Vitae (CV) terbaru
– Transkrip nilai akhir
– Portofolio (bukti organisasi atau proyek sosial)
– Essay dengan tema: Kewirausahaan Sosial.
Kelengkapan administrasi sangat diperlukan pada tahap seleksi karena merupakan salah satu bentuk seleksi sebelum masuk ke tahap seleksi selanjutnya yaitu LGD (Leaderless Group Discussion) yang menurut Alifia Seftin dalam artikelnya merupakan kegiatan diskusi bertukar pendapat maupun informasi mengenai beberapa topik oleh anggota kelompok tanpa adanya pemimpin yang ditunjuk di awal diskusi (glints.com). Pada saat pelaksanaan seleksi LGD, saya dan beberapa peserta dikelompokkan sesuai dengan nomor registrasi yang didapat pada awal pendaftaran dan 1 orang mentor membahas mengenai isu “Mengentaskan Kantong Kemiskinan di Papua” melalui aplikasi Zoom. Setelah pelaksanaan dua seleksi ini, terdapat 5.140 orang peserta yang lolos dari 11.109 orang yang mendaftar program Pejuang Muda.
Setelah pengumuman peserta yang lolos, saya mengikuti kuliah umum sebagai pembekalan sebelum ditempatkan di daerah-daerah tujuan. Kuliah umum diberikan selama 7 hari secara daring melalui Youtube dan Zoom dengan berbagai materi seperti perencanaan sosial, komunikasi, perencanaan proyek, manajemen sumber daya, kewirausahaan sosial, pemahaman manajemen resiko, mitigasi dan pengawasan, kerja kelompok, dan pengembangan diri.
Pengumuman penempatan tugas pun tiba, saya ditugaskan di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat Provinsi DKI Jakarta bersama dengan 10 anggota lainnya. Ya, saya ditempatkan di ‘kota metropolitan’ yang muncul di benak saya pada waktu itu adalah ‘apakah masih banyak terjadi masalah-masalah sosial di kota besar yang kelihatannya sudah cukup maju jika disbanding dengan daerah-daerah lain yang ada di penjuru Indonesia?’.
Tahap Pelaksanaan
Masa kerja saya dan kelompok adalah hari Senin sampai dengan hari Minggu secara hybrid selama kurang lebih 2 bulan. Pada minggu awal pelaksanaan, saya dan 10 anggota lain yang berasal dari berbagai univeritas dan daerah di Indonesia bertemu dan berkumpul bersama mentor, Koordinator Kota, Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, seluruh Ketua Satuan Pelaksana dari setiap kecamatan yang ada di Jakarta Barat untuk berdiskusi memaparkan keadaan secara fisik dan sosial wilayah Jakarta Barat.
Minggu-minggu berikutnya, saya dan kelompok melaksanakan pemetaan masalah sosial dan melakukan survey untuk monitoring pelaksanaan E-Warong di wilayah Jakarta Barat dimulai dari Kecamatan Tamansari.
Pada saat itu saya tersadar bahwa benar adanya di Kota Jakarta Barat yang berada di wilayah Ibukota Negara masih memiliki permasalahan khususnya secara sosial. Hasil dari pemetaan masalah sosial tersebut, kelompok kami mendapatkan beberapa isu yang nantinya akan kami angkat menjadi tugas dalam Team Based Project diantaranya isu pengolahan sampah yang kurang tepat, kemiskinan, kriminal, pendidikan dan lainnya. Kelompok saya mendapat data masyarakat yang terdaftar DTKS sebagai penerima bantuan PKH dan BPNT yang tersebar di beberapa Kecamatan dan harus kami datangi untuk dilakukan verifikasi dan validasi antara data dan keadaan sebenarnya menggunakan aplikasi dari Kementerian Sosial Bernama SAGIS. Pada saat saya melakukan tugas ini, seringkali ditemani langsung oleh masyarakat RT setempat untuk berkeliling dari rumah ke rumah di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, dan banyak menemukan masalah sosial yang kerap terjadi di lingkungan tersebut. Seringkali saya menerima keluhan, kritik, dan masukan untuk Kementerian Sosial yang kemudian saya catat untuk dilaporkan sebagai laporan harian.
Tugas-tugas tersebut rutin dilakukan setiap hari berkeliling RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan di seluruh wilayah Jakarta Barat. Pada akhir-akhir masa tugas kami, saya dan kelompok menetapkan isu pengolahan sampah untuk diangkat menjadi program pada Team Based Project dengan kegiatan “Penyuluhan Budidaya Maggot BSF” yang dilaksanakan di RT 01 Kelurahan Meruya Selatan dan dihadiri oleh beberapa warga dan perangkat RT setempat. Kelompok saya mengusung tema ini karena menilai bahwa masa kini masyarakat akan sangat terbantu dalam mengolah sampah organik hasil rumah tangga dengan membudidayakan maggot BSF yang kemudian dapat dijual ataupun digunakan sebagai pakan hewan ternak. Harapan kelompok saya adalah masyarakat setempat dapat menjadi contoh untuk daerah lain yang memiliki permasalahan serupa. Dalam pelaksanaan proyek sosial ini, saya turut menyumbangkan sedikit banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan selama saya belajar di Jurusan Pendidikan Masyarakat sebagai Seksi Acara di dalam kepanitian kelompok, yaitu berkomunikasi dengan orang-orang dewasa, merancang kegiatan penyuluhan yang disesuaikan dengan beberapa ketentuan di dalam pendidikan orang dewasa, dan yang lainnya. Proyek ini juga merupakan bentuk hasil dari materi kuliah umum yang kami terima dan hasil pemetaan masalah sosial yang kami lakukan selama beberapa minggu ke belakang.
Tahap Pelaporan dan Penilaian Akhir
Program Pejuang Muda diakhiri dengan pembuatan laporan secara keseluruhan kegiatan yang berisikan laporan harian berupa Log Book dan laporan Team Based Project, dikirim melalui e-mail dan melalui laman Web Spada Kemdikbud. Penilaian akhir program Pejuang Muda meliputi kehadiran yang dibuktikan dengan Log Book beserta foto dan video kegiatan, tugas-tugas artikel, paper, dan makalah yang dimuat di laman web Spada Kemdikbud, adanya hasil jumlah Kepala Keluarga terdaftar DTKS yang sudah divalidasi dan diverifikasi melalui aplikasi SAGIS dan dimuat di laman web Pejuang Muda, serta pelaksanaan Team Based Project yang dibuktikan dengan laporan dan proposal. Semua peserta program akan mendapatkan nilai akhir dari mentor dan dimasukkan bersama dengan sertifikat hasil program.
Selama pelaksanaan program Pejuang Muda ini saya merasakan suka dan duka yang sangat berkesan. Pengalaman bertemu dengan Mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia, berhadapan dengan masalah sosial secara langsung, mendengarkan suara masyarakat terdampak masalah sosial, bertemu dengan berbagai macam karakter masyarakat Indonesia khususnya yang berada di wilayah Ibukota, Kota Jakarta Barat, mendapatkan kesempatan langsung untuk berkoordinasi dengan petinggi dan tokoh masyarakat, dan pengalaman-pengalaman hidup baru lainnya yang luar biasa. Sungguh merupakan cerita yang sangat berkesan selama mengikuti Program Pejuang Muda, banyak hal yang mengajarkan saya arti kehidupan ini. Terima kasih Pejuang Muda!

